Desember, Dua Lelaki, dan Pemilu

Desember kali ini dua orang lelaki sedang menapaki batu mimpinya. Berjuang untuk menjadi pemimpin di komunitas mereka. Mempertaruhkan keberanian dan kualitas diri. Menyulut semangat yang tak kunjung henti.


1. Rifian Ernando

Edo.

Kalau pernah membaca beberapa postingan lama, mungkin namanya terdengar familiar. Yup, Edo adalah salah seorang kawan saya dari SMA. Hingga kini ke-“aeng”-an pertemanan kami masih berlanjut. Kami acap kali berkumpul, ngobrol ngalor-ngidul, bertukar gojegan kere, jajan bakmi Jawa. Tapi satu yang saya tidak pernah lupa dari dia : semangat dan idealisme.

Kalau Soe Hok Gie bisa lahir kembali mungkin ya bentukannya seperti Edo ini haha. Saya yakin kalau dia baca pasti sombongnya setengah mati. Sedari SMA dulu Edo adalah anak yang paling kekeuh dengan impian-impiannya. Awalnya dia amat ingin masuk Akademi Militer. Semua jalan ditempuh untuk membuka jalan. Mulai dari bergabung ke Pleton Inti (TONTI), rajin latihan fisik, hingga mendapat bonus tampilan kulit hitam legam. Kegigihannya terbayar dengan terpilihnya dia menjadi komandan TONTI. Terhitung beberapa kali dia menyumbangkan prestasi dari TONTI. Seingat saya dia juga sempat jadi paskibra, meski cuma tingkat Kota Jogja.

Tapi sayang, di tengah masa SMA tiba-tiba mimpinya berubah. Ia urung bergabung ke AKMIL. Didorong semangat membela yang lemah *halah* akhirnya Edo memilih untuk mengambil Jurusan Hukum sebagai bidang studinya. Tentu bukan jalan yang mudah. Sebab saat itu ia terdaftar di kelas IPA. Tapi lagi-lagi dengan semangat nya yang gila itu, dia bisa tembus UM UGM.

Tak cukup sampai disitu. Semasa kuliah, jiwa kritisnya tak pernah hilang. Si supir bus antar kota ini kerap jadi orator di berbagai demo. Dia sering jadi bahan olokan diantara kami-kami karena selalu protes. Apa-apa dikomentari. Orang terlihat santai sedikit, berlagak sedikit, pasti dihadihi kritik. Beberapa fotonya yang sedang memimpin orasi jadi candaan yang tak henti. Setiap kami bertemu, setiap ada dia, ujung-ujungnya akan terjadi diskusi serius.

Sejak awal masuk kuliah nampaknya dia sudah digadang-gadang jadi calon ketua komunitas tempatnya belajar sekarang. Walau sempat beberapa kali menolak, tapi toh akhirnya dia maju juga. Meski beberapa hari lalu sempat terdengar kabar kalau dia mengundurkan diri dari bursa persaingan, tapi pada detik-detik terakhir Edo kembali memutuskan untuk berjuang sampai akhir. Yeah, that was Edo that I knew.

Selamat berjuang ya Do, terima kasih sudah mengajarkan hal berharga. Bahwa satu-satunya kemewahan yang bisa dimiliki generasi muda adalah idealisme. I know you desserve this. You will be such a good leader, no matter you are going to loose or win in the election. Good luck, good friend🙂

 

 

2. Gilang Pradityo Bahar

 

Gilang.

Lelaki yang sempat menjadi teman dekat saya sekitar 2 tahun lalu. Walaupun sekarang konteks pertemanan kami berbeda, tapi hubungan kami masih sama baiknya. Bisa anda lihat poster yang ada di atas ini? Ya saudara-saudara, tahun ini dia mencalonkan diri jadi ketua KOMAHI. Sumpah demi apapun waktu pertama kali saya dengar kabar ini rasanya mau kejengkang. Gilang yang saya kenal maju sebagai calon ketua KOMAHI? Hmm sebentar. Entah kenapa nampaknya kurang sinkron.

Bukan berarti dia tidak cocok menjadi pemimpin. Tapi sekian lama saya kenal dia, nampaknya tidak ada tanda-tanda dia ingin maju sebagai pemimpin. Padahal sedari dulu, orang yang cukup dekat dengannya pasti bisa melihat kualitasnya sebagai calon pemimpin. Dia adalah salah satu orang yang konsisten, lurus, realistis, dan bisa diajak bekerja dengan menyenangkan dalam satu tim. Sayangnya entah kenapa rasa yakin dan percaya diri belum juga muncul dalam dirinya.

Betapa kadang gemas ingin menjitak dan membawa poster besar di depan matanya bertuliskan : Take a risk, for God sake!. Sesungguhnya hidup yang terlalu lurus tidak akan membawa kita kemana-mana.

Beberapa minggu lalu, saat kebetulan kami bertemu di ruang bicara maya dia bercerita kalau dia akan maju di Pemilu KOMAHI. Dilatari berbagai macam latar belakang, mulai dari yang bermutu sampai yang wagu haha. Tapi sungguh lega rasanya mendengar keputusannya. Akhirnya tiba juga saatnya ia mengumpulkan tumpukan derma. Membawa diri selangkah lebih dewasa, dengan menantang batas kemampuannya.

Cita-cita yang terlalu hati-hati tak akan membawamu kemana-mana kan?

Selamat berjuang Lang. Selamat karena kamu sudah berhasil menaklukkan dirimu sendiri. Semoga kesempatan ini membuka pintu-pintu kesempatan lain di depan sana. Selalu ada banyak doa yang akan membantumu dari balik lingkar kepala. Bersemangatlah, niat baik selalu ada jalannya🙂

 

Desember ini, ada dua lelaki yang sedang menganyam jaring-jaring masa depannya. Menguji ketahanan diri, menantang keterbatasan hati. Semoga Ia selalu menuntun kalian, orang-orang yang lurus jalannya.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s