Tiba-Tiba Rindu

Kata orang, pengalaman tak bisa dibeli. Ia cuma bisa dimaknai dan digali tanpa henti. Tapi saat ini, saya rasa tesis itu bisa digoyahkan. Ada yang pengalaman belum juga bisa berikan.

Persahabatan.

 

Barangkali memang momennya sedang pas ya. Kebetulan kemarin, 26 November 2010 salah seorang sahabat saya, Ussy berulang tahun. Sebagai pengganti kehadiran akhirnya saya memutuskan untuk meneleponnya. Pembicaraan 30 menit yang cukup melepas rindu. Semua cerita mengalir tanpa canggung.

Berbincang dengannya sesaat membawa saya ke rumah, ke tempat saya berasal.

Jujur saja, meski di sini penuh dengan teman-teman yang tak kalah menyenangkannya tapi kehadiran mereka – sahabat-sahabat sejiwa, memang tak tergantikan.

Saya kangen nyetir di ringroad terus tiba-tiba kepikiran mereka.

Kangen riweh tiap ada yang ulang tahun.

Kangen makan bersama di mie jawa, rumah pohon, berkumpul di rumah Damas atau Sasya.

Saya kangen jemputin Ussy tiap mau pergi bersama.

Kangen ocehan idealis Edo yang akhirnya cuma jadi ceng-cengan bersama.

Kangen gojegan kere Erot dan Hafid yang gak ada masuk akalnya.

Saya rindu sms Inyong yang sering tiba-tiba masuk. Ajakan nonton atau sekedar curhat.

Rindu liat Penceng yang selalu terlihat sibuk. Dasar ketua Ikama.

Saya rindu liat Damas yang ingah-ingih, tapi tetap jadi andalan saat foto-foto.

Kangen Ayuk yang manja.

Kangen Tya, kangen sekali.

Rindu memarahi Samson yang suka iseng merokok.

Pun Sasya dan Ogik.

Saya kangen memeluk Sasya.

Kangen bersandar di bahu Ogik.

 

Saya rindu merasa genap di tengah persahabatan kami yang sederhana.


Malam ini, saat berada ribuan mil jauhnya dari rumah.

 

Betapa saya bersyukur, ada mereka yang bisa selalu saya gaungkan namanya.

Saat saya hampir menyerah belajar kanji, saat lidah menolak rasa soyu.

Saat harus menembus udara dingin demi membeli roti.

Atau saat logika berteriak, butuh sedikit privasi.

Paling tidak, masih ada mereka yang selalu jadi tempat kembali.


Muara segala pencapaian, tempat selalu bisa menjadi diri sendiri.


Sahabat, aku rindu🙂

3 thoughts on “Tiba-Tiba Rindu

  1. Galau ya emang kalau udah urusan sahabat-keluarga. Senyaman-nyamannya hidup, kalau jauh dr mereka jadi ada yg kurang. But, thanks to technology🙂 yg jauh jd terasa dekat meskipun pelukan tidak bisa dilakukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s