Oda Untuk Merapi

Seperti baru kemarin,

saat Papa mengajakku berjalan di kakimu.

Terkikik merasakan gelitik angin yang karib. Menetap di peraduan lapangmu.

Kumbang dan kepik cukuplah jadi hiburan nomor satu.

Lihat. Ia memberi kepik lucu ini tempat hidup. Berbagi lahan dengan angin kencang yang nakal. Menyuburkan tanah Pak Tani yang menyiapkan nasi untuk sarapan pagimu”, ujar Papa sembari mencolek cepat hidungku.

 

Seperti baru kemarin,

saat aku menumpang di bak truk.

Berjingkrak senang bersama kawan sepermainan.

Bapak dik Chandra, tetangga sebelah rumah, berkendara ke hilirmu.

Ia bilang hilirmu memberinya cukup nasi untuk dimakan.

Cukup rupiah untuk membeli sayuran.

Hilir ini memberiku hidup. Betapa baiknya alam”, ujarnya girang. Tangan belepotan pasir. Tersenyum lebar.

 

Seperti baru kemarin,

saat selalu ada nilai kebaikan di tiap kisah tentangmu.

Tak pernah ada takut menyeruak kalbu.

Muntah awan panas saban tahun, semua orang sudah tahu.

Tapi kau terlampau lugu. Betapa yakinnya kami kau tak akan menggores pilu.

 

Dan pekan lalu,

waktu kau terbatuk hebat dan tak bisa henti tergugu.

Kami paham, betapa lamanya kau menahan diri.

Demi manusia-manusia kerdil yang bergubuk di kakimu.

Maka rentangkan saja tubuh gagahmu.

Lepaskan nafas yang tertahan di kerongkonganmu.

Ketahuilah, barangkali pias wajah kami tertangkap.

Namun tak perlu kau ragu, betapa kami tetap mencintaimu.

 

Seperti baru kemarin,

saat kau jadi sumber penghidupan penambang pasir di hilirmu.

Peringan beban petani yang tak mampu beli pupuk kualitas satu.

Penghibur mata yang jenuh lalu lalang kota penuh lampu.

 

Maka kini biarkan kami ganti menghidupimu.

Dengan tangan dan bahu yang tak pernah putus bertemu.

Lihatlah, kami yang tetap bertahan di kakimu.

Meniru ajaranmu, membagi inti hidup dengan mereka yang perlu.

 

Selamat menuntaskan deham batukmu, Merapiku.

Tak perlu takut kehilangan teman. Longokkan saja kepalamu.

Dan kau kan temukan kami disitu.

Terjaga, berdzikir demi kesembuhanmu.

 

 

Fukuoka, 11 November 2010

 

Buah karya dari omnibus.

 

 

 

 

2 thoughts on “Oda Untuk Merapi

  1. wah mon.. coba kamu pernah coba naik gunung merapi ini, puisimu pasti lebih ciamiiikkkk.. belom pernah ndaki aja dah gini puisine opo meneh nek wes tau..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s