Mayla dan Cinta yang Miskin Kata

“Satu kalimat singkat saja sudah dapat merubah semuanya”, ucap Mayla pelan pada pria yang duduk diam di hadapannya.

Diam.

Itulah satu-satunya masalah yang dihadapi Mayla dan Gilang.

Sejak awal bersama, mereka seakan bertemu jiwa kembar yang hanya terpisah kaca. Segalanya serupa. Menyalahi aturan magnet yang semestinya tertarik ke kutub sebaliknya, berbagai kesamaan justru membuat semesta berkomplot untuk membuat mereka jatuh cinta. Mayla dan Gilang yang begitu kasmaran tak mampu menolak rencana yang dunia hamparkan di hadap mata. Bukankah bertemu pasangan jiwa yang hampir tak ada beda adalah satu dari sedikit keberuntungan yang tak semua orang punya?

“Kenapa kamu bisa jatuh cinta padaku?”, di suatu senja yang menghadirkan aroma manja Mayla mengajukan pertanyaan retorik pada Gilang. Petang itu, layaknya petang-petang biasanya mereka habiskan dengan duduk di beranda sembari menyeruput teh bersama. Tak pernah alpa. Seakan kehilangan satu ritual minum teh saja dapat menghancurkan pondasi cinta.

“Perlukah dijawab?”, Gilang mendekatkan cangkir teh nya ke ujung hidung. Menghirup uap hangat yang menyeruak begitu saja. “Kamu seperti teh, Mayla. Datang dengan sepaket kejutan. Membuatku tenang dan susah tidur di saat bersamaan”. Gilang menyesap teh nya pelan-pelan, sembari lengannya yang bebas menemukan jemari Mayla. Terkunci disana. Saat itu Mayla percaya cinta tak pernah butuh kata. Cukup segelas teh dan Gilang saja.

Bombardir kencan selanjutnya masih dalam bentuk serupa. Seakan aksara sudah tidak ada lagi di kamus yang mereka punya. Bertukar pikiran lewat pandangan mata, mengirim sinyal cinta lewat gestur saja. Mayla dan Gilang berbagi peran lewat koreografi tanpa suara. Selepas rapat deadline yang menguras tenaga, Gilang akan menemukan teh kental dan tumis sederhana di meja apartemennya. Komplimen sederhana dari Mayla, memanjakannya di setiap tanggal yang sama. Senyum simpul dan semburat cahaya di mata lelah Gilang sudah cukup membuat Mayla bahagia. Itu pertanda, Gilang menghargai kemampuan memasaknya yang jauh di bawah rata-rata. Pertengahan bulan giliran Mayla jadi penguasa. Permasalahan wanita, hormon Mayla naik turun seenaknya hingga marah-marah akan jadi hobi utama. Tanpa perlu penjelasan panjang lebar, Gilang akan menyediakan lengannya untuk dicubiti sesuka hati. Memasang senyum dan muka sabar untuk Mayla yang menggerutu tak ada habisnya. Pamungkasnya, Gilang menghadiahi Mayla satu buket es krim favorit yang jarang dibeli karena takut kegemukan. Segalanya dilakukan tanpa suara. Ini adalah cinta tersepi yang pernah mereka punya.

Pertengahan warsa kedua. Menjelang petang. Di beranda.

Mayla terpekik saat ia menemukan cincin tergeletak di dasar cangkir teh nya yang biasa. Petang itu mereka sedang menjemput senja bersama. Mengejawantahkan rasa yang miskin suara. Semua terjadi selayaknya lagu yang telah mereka hapal di luar kepala. Gilang masih dalam balutan setelan kerja. Mayla terlihat lebih santai, blazer resminya telah ditanggalkan. Hanya kamisol sederhana yang tersisa. Jemari lentik Mayla menuangkan serbuk teh dengan takaran kira-kira, toh kalaupun tak pas Gilang tak pernah bersuara. Namun memang ada yang berbeda sore itu. Sejak datang tadi, Gilang memandanginya dengan tatapan yang tak biasa. Lebih dalam. Intens. Yang mengejutkan ada sirat posesif di sana.

“Apa ini?”, Mayla menatap Gilang tajam meminta penjelasan. Ia urung menuang teh yang sudah selesai diramumya. Takut-takut ia julurkan jemarinya, mengelus permukaan cincin emas putih berhiaskan satu permata biru.

Gilang menghela nafas berat. Menempatkan manik matanya tepat pada pupil mata Mayla.“Sudah sekian warsa kita habiskan tiap senja bersama. Beranikah kamu duduk disini tiap hari, bersamaku, untuk menyambut fajar pertama?”

Gilang melamar Mayla.

Sebagai wanita, Mayla kepalang bahagia. Semburat merah jelas muncul di pipinya. Kini ia akan menjalani hidup yang tanpa tangga nada. Dengan gerakan lembut ia mendekat pada Gilang. Menghirup aroma tubuh yang menyeruak dari pria di hadapannya. Menatap Gilang dalam-dalam. Seperti mendapat persetujuan, Gilang kemudian mengambil cincin di dasar cangkir Mayla. Dengan gerakan taktis menempatkan cincin itu di pangkal telunjuk wanitanya. Cincin itu kini sudah bertuan. Diam Mayla berarti iya. Saat senja berubah gradasi warna, bibir Gilang pelan memagut bibir Mayla. Sepasang tunangan itu berciuman lama.

Senja yang sama. Tahun berikutnya.

Tinggal beberapa detail kecil menjelang hari besar mereka berdua. Hari ini, Mayla sengaja pulang lebih cepat untuk mempersiapkan kencan kecil dengan Gilang di beranda. Belakangan Gilang seakan sibuk kejar setoran demi mewujudkan rencana jalan-jalan pasca menikah berkeliling  ke seputaran Asia Tenggara. Sebagai pasangan muda, Mayla dan Gilang dirundung idealisme untuk tidak memberatkan orang tua dalam biaya pernikahan mereka. Karena kesibukan Gilang itulah, Mayla merasa perlu memanjakan calon pendampingnya sedikit. Sepulang dari kantor tadi, ia menyempatkan diri mampir  ke Tea House, membeli earl grey tea kesukaan Gilang. Sebagai camilannya ia khusus memesan american chocolate cake dari Vivian, teman samping kubikelnya yang gemar berkutik di dapur. Lebih daripada itu, kini Gilang semakin jarang bersuara. Setelah prosesi lamaran kala itu, seakan ia masuk ke gua yang Mayla tak pernah mengerti ujungnya. Boleh dibilang Mayla memang tinggal sejengkal lagi jadi miliknya. Tapi bukan berarti ia dibiarkan bermonolog seorang diri saja.

Teh. Coklat. Senja. Mayla. Semoga kembali membuat Gilang jatuh cinta.

“Hey, hows your day dear?”, sapa Mayla halus setelah Gilang memarkir mobil. Gilang mengambil tempat duduk di samping Mayla. Menggulung kemejanya hingga sebatas lengan. Mengulangi ritual minum teh nya yang luwes, mendekatkan cangkir ke ujung hidup dan menghirup uap nya dalam-dalam.

“Ah, earl grey…”, desah Gilang sembari melirik Mayla. “Thank you dear”

“Good tea to end good day.”, sambung Mayla dengan mata berbinar.

Inilah yang Gilang suka dari Mayla. Ia bukan tipe yang suka berlama-lama berdebat soal hal-hal sederhana. Beban pekerjaan dan beberapa proyek pribadi sudah cukup memberatkan harinya. Pada Mayla lah Gilang menemukan sebentuk peneriman yang luar biasa. Bercinta tanpa suara. Cukup dengan satu dua gerak bahu dan kedik mata Mayla sudah paham keinginannya. Barangkali micro chip yang ditanam Tuhan di kepala mereka memiliki spesifikasi yang sama.

Melihat Gilang sedang dalam keadaan bahagia, Mayla mengeluarkan katalog undangan dari tas tangan di pangkuannya. “Lang, hari ini kita pilih undangan yuk. Mau yang mana?”

“Terserah kamu saja. Kamu tahu yang aku suka”, Gilang menjawab singkat. Apapun pilihan undangannya ia tak mau ambil usaha. Sebagai wanita, Mayla pasti lebih punya selera. Ia kembali menyesap teh nya. Menatap Mayla yang sedang sibuk menentukan warna undangan, lekat berlama-lama. Sebagai calon istri, Mayla sudah memenuhi segala kriteria. Sesama penggila senja. Penikmat teh beragam rasa. Dan yang utama, tak butuh banyak kalimat untuk memahaminya.

Ketika matahari sampai di ujung peraduannya, Gilang sedikit mengernyit melihat Mayla menambahkan perasan lemon dalam cangkir teh nya.

“Variasi”, begitu jawab Mayla saat ditanya.

Gilang enggan berdebat. Itu bukan gayanya.

Fajar pertama. Halaman belakang. Pernikahan Gilang dan Mayla.

Seribu empat ratus empat puluh kali sesi kencan di beranda cukup membuat dua anak manusia yakin bahwa mereka ditakdirkan untuk hidup bersama. Begitu pula Gilang dan Mayla. Pernikahan yang secara teknis sendirian digarap oleh Mayla akan terlaksana. Beberapa pekan belakangan Gilang memang makin sering absen dari kegiatan menjemput senja. Tenggat waktu pekerjaan sebelum ia mengambil cuti bulan madu harus dimajukan. Mayla tak apa, hanya sesekali merasa gamang saja. Bukankah pernikahan semestinya menjadi problem dua kepala?

Beberapa tamu yang hadir bertanya tentang preferensi Mayla memilih waktu pernikahannya. Kenapa bukan senja? Justru fajar yang belum sempurna. Maka tak heran pesta kali ini sepi, hanya dihadiri beberapa tetangga yang bahkan masih berpiyama. Mayla terkikik dalam hati. Ini akan jadi pesta pernikahan terunik sepanjang masa. Jawaban Mayla atas semua pertanyaan itu sederhana saja, “Variasi” begitu saja singkatnya. Ada kalanya manusia berubah kan? Dengan keleluasaan yang Gilang berikan, Mayla rasa tak ada salahnya sesekali membuat suasana baru.

Alunan piano yang diputar lewat stereo menandakan Gilang telah siap menyongsongnya. Ini juga berbeda. Bila dalam pernikahan biasa mempelai wanita yang berjalan di atas karpet merah dan dilempari bunga, Mayla justru membalik keadaannya. Ia yang akan menunggu di samping podium. Sementara Gilang berjalan menghampirinya. Ada filosofi dibaliknya. Ini tanda bahwa Mayla adalah masa depan yang Gilang tuju. Gilang harus berjalan sepanjang koridor untuk memperjuangkannya. Mayla ingin hari ini Gilang lebih lelah darinya,  hitung-hitung satu sama setelah ia stress seorang diri mengurus tetek bengek pernikahan.

Di ujung sana Gilang mulai melangkah mantap. Sejujurnya ia cukup bingung dengan preparasi Mayla. Sebagai pemilik micro chip otak yang sama semestinya Mayla tahu bahwa kebiasaan mereka selama empat warsa merupakan inti stabilitas komitmen yang terus terjaga. Semestinya Mayla paham bahwa senja adalah saat paling tepat untuk mengucap ikrar bersama. Bukankah dulu mereka ditautkan oleh senja? Mengapa kini harus berpaling ke fajar yang baru saja? Sembari berusaha mengikuti alunan lagu, Gilang menatap kanan kiri. Melempar senyum pada tamu undangan yang kebanyakan masih tampak mengantuk. Hingga matanya tertuju pada meja minuman. Gelas tinggi. Air berwarna coklat kekuningan. Lemon tea? Ia buru-buru mempercepat langkahnya menuju Mayla.

“Kenapa lemon tea, Mayla?”, Gilang menggenggam lengan Mayla erat hingga Mayla harus menutup mulut agar jerit kesakitannya tidak mencuat. Tanpa diduga, Gilang justru mengambil tindakan spontan dengan memberondong Mayla lewat pertanyaan. Tatapan Gilang mendesak meminta penjelasan. Tak peduli sekian pasang mata yang menyaksikan.

“Kenapa lemon tea?”, desak Gilang lagi.

Mayla menatap Gilang tak mengerti.

“Variasi”, jawab Mayla pasti.

“Ada hal yang bisa diganti sesuka hati. Baiklah senja masih bisa kau ganti. Beranda juga tak apa, silahkan kau pindah saja tempat resepsi. Tapi hidangan ini? Lemon tea, demi Tuhan Mayla!”, nada suara Gilang meninggi. Semua tamu tampak bergidik ngeri. Pertengkaran di depan altar menempati peringkat satu dari sekian momen yang harus dihindari.

“Lang, itu tadi pembicaraan terpanjang yang pernah kamu lontarkan”, bisik Mayla sedikit terkejut. “Dan kata-kata panjangmu hanya kamu gunakan untuk memarahiku?”, tambahnya kecut.

Gilang masih tampak geram.

“Mayla, kamu tahu kenapa aku marah. Teh jadi alasanku mencintaimu. Kenapa sekarang kamu merubah alasan itu?”.

Mata Mayla yang awalnya tertuju ke lantai kini mulai berani menatap Gilang. Kalau memang harus malu, kali ini ia harus dipermalukan dengan total. Tak perlu setengah-setengah.

“Kamu bilang teh itu seperti aku. Tenang namun membuatmu tak bisa tidur di saat bersamaan. Begitu bukan? Tapi kamu lupa satu hal Gilang sayang, dalam kepekatanku ada juga binar keceriaan yang bisa kuberikan. Aku ini sepaket premium tea penuh kejutan. Bukankah menyenangkan kalau tiba-tiba kamu temui rasa lemon tea dalam secangkir teh yang tengah kau sesap?”.

Jawaban panjang Mayla dibalas Gilang dengan gelengan.

“Tidak Mayla. Teh itu esensial. Seperti pondasi. Dasar. Agggh kamu paham kan?!?”, Gilang mulai nampak frustasi. Ia tak suka berlama-lama membahas hal sederhana. Semestinya Mayla mengerti.

“Apa salahnya sedikit variasi? Kita mau menikah Gilang, nanti saja kalau mau ribut soal lemon tea”, tandas Mayla sedikit keki.

Kenapa kamu tidak bilang kalau mengganti teh dengan lemon tea?”, Gilang kembali mencekal lengan Mayla. Menuntut perhatiannya.

“Bukankah ada yang tak suka bicara disini?”, ketus Mayla.

“Aku memang tak suka bicara Mayla. Tapi aku mau mendengar! Kenapa kamu tak bicara?” tuding Gilang.

Mayla terhenyak melihat Gilang meledak. Selama ini ia hampir menyangka bahwa Gilang adalah pria tanpa emosi.

“Aku hanya ingin mengimbangimu. Tak terlampau banyak bicara”.

Skak mat. Gilang limbung mencari pegangan. Salah seorang tamu undangan sigap menyorongkan kursi ke belakang. Tak lucu bila calon mempelai pria terjengkang pingsan. Gilang duduk diam, memandang Mayla dalam. Ini tak seharusnya terjadi. Mayla tak semestinya berupaya mengimbangi dirinya. Mereka seharusnya serupa. Dengan micro chip sama! Kalau begini sama saja ia melangkah dalam cinta yang fiksi semata.

Mayla melangkah perlahan masih dengan gaun putih dan stiletto warna fuschia. Saat menuju tempat Gilang duduk, ia sempat mengambil segelas lemon tea. Menenggaknya sedikit. Kemudian ia mendekat pada Gilang, memeluk lehernya. Mengecup bibir tipis Gilang perlahan. Samar-samar ia titipkan rasa segar lemon tea dalam kecupan singkatnya.

“Kamu harus lebih banyak bicara.” bisik Mayla seusai Gilang membuka mata. Itu tadi kecupan paling mesra yang pernah mereka punya.

Gilang masih diam saja.

“Satu kalimat singkat saja sudah dapat merubah semuanya”, ucap Mayla pelan pada pria yang masih  duduk diam di hadapannya.

Mayla tegas menatap Gilang. Mencari kesungguhan dan keyakinan yang dulu selalu tersedia pada diri pria ini. Bagaimana mungkin permasalahan sederhana macam hidangan pesta bisa membuat Gilang protes setengah mati?.

“Kita menikah kapan-kapan saja”, tegas Mayla.

Mayla mantap berbalik arah. Menarik ekor gaun panjangnya. Cinta yang miskin kata sudah habis masanya. Tanpa ragu, ia menenggak habis segelas lemon tea yang baru saja membuat ia putus cinta. Bahkan  nyaris menjanda sebelum waktunya.

2 thoughts on “Mayla dan Cinta yang Miskin Kata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s