Mesin Absen Sahabat dan 5 cm

Ada yang ingat buku 5 cm?

 

 

Salah satu buku best seller ini merupakan bacaan wajib saat SMA. Ketika itu hampir semua teman membaca buku serupa. Maka mau tak mau, saya mengekor juga. Ceritanya sederhana, namun indah dirasa. Tentang persahabatan lima anak manusia yang dibumbui petualangan naik gunung bersama, upaya mengejar mimpi masa muda, lalu tak ketinggalan pula ada sisipan kisah cinta dan akhir jodoh yang tak diduga.

Hari ini, selepas sholat isya pikiran saya langsung terbang ke kisah 5 cm yang dulu begitu merajalela. Tentu ada alasannya. Edo, seorang sahabat meneruskan pesan singkat seorang sahabat lainnya yang sedang mendaki puncak gunung di ujung sana. Isi pesannya sederhana saja. Mengabarkan bahwa ia tinggal 1 km jaraknya dari puncak gunung impiannya. Keadaan badannya sehat tak kurang apa. Hal yang membuat bulu kuduk merona adalah kebahagiaan yang tersirat dari kata yang dipilihnya. Ia sudah berhasil menaklukkan gunung yang dulu hanya ada dalam angan semata. Enam hari perjalanan pasti lunas penuh bahagia. Ah, betapa bahagia kau disana.

Bagi yang sudah pernah membaca 5 cm pasti tahu gunung apa yang sedang saya rangkai ceritanya. Ya, Mahameru. Atau Semeru jika belum pernah tahu sebutannya. Dulu sahabat saya yang satu ini hanya merajut gambaran indah Mahameru dari novel yang pindah tangan kemana saja. Bagaimana serunya Genta, Rianti dan tiga sahabat lainnya (yang saya lupa namanya) mendaki Mahameru lewat petualangan yang panjang. Dan kini ia seperti napak tilas kisah mereka. Lewat beberapa update twitter-nya ia bercerita bahwa ia naik kereta ekonomi, menumpang bus, bermalam di camp pendaki, menumpang jip, baru memulai perjalanan yang sesungguhnya. Barangkali bila ditambah dengan merebus mie instan dan minum teh hangat kisah mereka akan benar-benar serupa.  Impian masa mudanya sudah terwujud di depan mata.

Bagi kami yang tetap menjalani kehidupan normal mahasiswa di Jogja, entah bagaimana perjalanannya seakan juga ikut merasuki jiwa. Saya dan Ussy, seorang sahabat yang sama-sama wanita merasa khawatir sejak awal tahu bahwa ia akan mendaki enam hari lamanya. Karena memang “gerombolan” dekat saya lebih banyak pria, tentu saja kekhawatiran ini berbuah olok-olok semata. Tapi saya yakin, bahwa dibalik “gojeg kere” yang tak ada mutunya itu semua tetap menyimpan kepedulian yang sama. Buktinya, Edo tetap meneruskan pesan singkatnya pada kami semua. Yang berbuah hela nafas lega dan beberapa update twitter yang juga menunjukkan rasa syukur atas kesehatan dan keselamatannya. Tentunya juga ada banyak kiriman doa yang tak hentinya mengalir untuk kelancaran perjalanannya. Barangkali, perjalanan sahabat ini terasa kebih sakral sebab secara tidak langsung ia menjadi orang pertama yang mewujudkan imajinasi kami semasa SMA. Seakan menitipkan sebutir mimpi untuk ditanam di puncak Semeru, lewat kakinya yang jauh lebih terlatih dari kami-kami yang olahraga saja aduhai malasnya.

Perjalanan si sahabat mendaki puncak Semeru ini menyadarkan saya akan eksistensi ikatan persahabatan yang nyata. Entah bagaimana jala-jala hidup telah membuat kami dekat begini rupa. Tanpa perlu berkirim pesan tiap waktu, tanpa berlu bertatap muka di setiap akhir minggu, tanpa agenda pasti bertemu. Yang jelas, jika ditanya siapa orang terdekat dalam hidup saya yang keluar adalah nama-nama mereka. Ada beberapa cerita yang memang hanya bisa dibagi dengan mereka saja. Dengan sabar mereka akan mendengar keluh kesah dan impian-impian aneh saya tanpa mengernyitkan alis mata. Mungkin kalau tiba-tiba saya beralih profesi menjadi penulis kacangan yang karyanya tak pernah dimuat mereka juga akan jadi pendukung utama yang paling memahaminya. Ada beberapa rencana dan impian yang hanya bisa kami wujudkan bersama. Tak mungkin di lingkaran pertemanan lainnya. Sekedar pergi ke luar kota dan menginap beberapa malam saja. Terlihat sederhana memang, tapi siapa yang bersedia menjadi pengendara layaknya sopir bus antar kota? Siapa yang bisa tetap asyik walau hanya makan kurang dari 10 ribu rupiah tiap kalinya? Orang tua mana yang tenang anaknya pergi dengan lelaki yang bukan muhrim bila bukan dengan sahabat lelaki yang menjaga dan terpercaya?

Bersama mereka, persahabatan bukan soal presensi semata. Tak perlu mesin absen canggih seperti di kantor-kantor ibukota. Kamu tak perlu ada setiap waktu bagi sahabat yang kau cintai dan mencintaimu. Jala persahabatan lah yang akan melekatkan kalian, saat rindu sudah mulai bertalu. Terima kasih Tuhan, telah kau tempatkan kami dalam jala macam itu.

 

*Tulisan ini dibuat untuk Eross Ainurahman. Selamat menaklukkan Mahameru. Kami titipkan bibit impian padamu.*

3 thoughts on “Mesin Absen Sahabat dan 5 cm

  1. ada ralat monss.. “Mengabarkan bahwa ia tinggal 1 km jaraknya dari puncak gunung impiannya” itu kayanya aku ga sms deeh.. soalnya disana udah ga ada sinyal mons.. mungkin aku sms “1 jam menuju Ranu Pane (perjalanan pulang)”.. soalnya begitu ada sinyal aku langsung SMS ibuku ama edo.. heheee.. Maksiih moonsss SEYMONNNNNNN hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s