Curhat Pada Tuhan

Tuhan, kamu punya waktu tidak?
Berkenankah jika kita duduk bersebelahan? Aku ingin berbagi pemikiran.

Ah, terima kasih. Janji, tidak akan lama-lama. Kutahu jadwalmu padat.

“Tuhan, aku malu.
Bukan cuma karena aku sering melalaikan ajaranmu.
Sering jadi hamba sok tahu, yang grasa-grusu. Asal menerobos laranganmu.
Apa artinya sholat 5 waktu kalau begitu?”

Kau duduk anggun. Diam, seksama mendengar ceritaku.

“Kenapa konsep penyesalan selalu menyebalkan sih Tuhan? Tak bisakah kau konversikan sesal jadi peringatan?
Setelah hampir 2 warsa kini baru aku menyesal sejadi-jadinya.
Mengapa dulu aku serapuh itu?
Kalau sudah begini, bisakah kutuntut janjimu?”

Entah dengan cara apa gesturmu bicara: Aku tak pernah ingkar janji.

“Sebagai yang paling murah hati, kuyakin Kau pasti mengampuni. Hamba mohon, jadikan kesadaran ini tumpuan.
Untuk perjalanan yang kelak lebih mengikuti marka jalan.
Sebab hamba yakin, kelak yang sepadan akan engkau atur bersisian.”

Kau mengangguk tanpa tanggapan. Habis sudah sesi untuk curhat berduaan.

Sudah, Tuhan.

Terima kasih untuk monolog dua arah yang amat menyejukkan.

Saatnya mundur, di belakangku ada segerombol curhat lain yang minta didengarkan.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s