Tetaplah Rajin Bertamu

Tamuku yang agung, teman lama yang kusayang. Tinggal 7 hari kita bersama.

Barangkali, setelah habis pekan ini kau dan aku akan jarang sekali mesra.
Sesungguhnya tak rela kulepas kau. Tak bisakah kau tinggal sebentar lagi saja?

Belum puas rasanya kureguk nikmat bersama.
Betapa ku kan kehilangan perhatian yang melimpah jumlahnya.
Hanya kau, yang bisa cerewet membangunkanku sholat malam.
Memaksaku tadarus Al Quran.
Kelembutanmu memberi kekuatan berlipat ganda.
Tak jarang kau bisikkan janji manis di telinga, bahwa segala perilaku kelak ada balasannya.
Kau tamu yang cerdas, agung. Bagaimana bisa ku tak jatuh cinta?

Andai waktu bisa diputar balik dengan cepat.
Akan kusempurnakan setiap detail pertemuan kita.
Pasti kusambut kau dengan tampilan dan senyum terbaikku.
Bukannya dengan jeans dan celana belel yang dulu itu. Ah, maaf ya tamu tersayangku. Bukan maksudku tak menghargaimu.

Kalau saja, bisa kembali kita jalani 23 hari yang sudah lewat masanya.
Tak akan kusiakan malamku dengan berleha-leha di kamar.
Kini, sedih rasanya. Tak kuindahkan ajakanmu untuk berseru menambah pundi amal.
Padahal kurang apa dirimu? Dengan penjelasan taktis kau bujuk aku dengan lembut.
Mengapa saat itu tak juga luluh diriku pada balasan berlipat ganda yang kau janjikan?
Maafkan kekerasan hati tuan rumahmu ini, wahai tamu berhati lembut.

Betapa aku kepalang mencintaimu, wahai tamu yang setia.
Kamu tak pernah meninggalkanku.
Meski kau tahu, aku melanggar aturan mainmu.
Tapi sedikit pun tak pernah kau bentak aku.
Tak peduli bagaimana aku mengecewakanmu. Dari mulai bersikap grasa-grusu, menyepelekan ajaran yang kau antar untukku, hingga menyerempet batas pergaulan yang tak semestinya kutuju.
Dengan sikap arif nan lembut seorang tamu agung, kau cukup merengkuh pundakku.
Berbisik pelan, ” Dengan salah maka kau akan tahu yang benar. Jangan takut, akan ada jalan keluar. ”
Kemari tamu agungku. Ijinkan aku memelukmu. Pasti kata-kata tak menyalahkan macam itu akan kurindu.

Tinggal 7 hari kita bersama.
Aku memang jauh dari tuan rumah sempurna.
Tapi kuyakin kau tak pernah berburuk sangka.
Kaulah tamu paling rendah hati yang pernah kuterima.
Datanglah lagi tahun depan, kuharap kau masih berkenan.
Semoga saat itu aku telah berbekal kantung pribadi yang kau harapkan.

Selamat berkemas, Ramadhan.

Semoga ada beberapa barangmu yang sengaja kau tinggalkan.
Agar kepergianmu tak terasa begitu menyakitkan.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s