Perpisahan Ala Ramadhan

Beberapa bulan belakangan, banyak teman yang menanyakan “kabar” status yang saya cantumkan di salah satu situs jejaring sosial.
Biasanya kolom itu saya kosongkan. Namun sekarang sudah saya ubah menjadi lebih gamblang. Setelah proses “gak papa kok..” yang cukup panjang, di pertengahan ramadhan ini insyaAllah saya sudah mantap🙂.

Single.

Kenapa single? Jawabnya sederhana, karena saya belum menikah.
Tidak in relationship, karena saya in relationship dengan banyak orang. Dan pastinya tidak engage, karena saya belum melewati proses itu.

Apakah itu artinya putus? Hmm bisa jadi begitu.

Semua dimulai dari sedikit ketegangan yang timbul karena salah komunikasi. Sempat terjadi perang dingin selama sebulan.

And you know what, the feeling of being too attached to someone is somehow iritating.

Akhirnya percakapan (yang kira-kira) macam ini pun terjadi:

“Kenapa diam?”, tanyamu dengan nada dingin yang identik.

“Ada hal-hal yang lebih baik tidak dikatakan”

“Aku minta maaf. Terlalu banyak hal yang terjadi bersamaan. I’m not a good story teller”

“You don’t have to be a prominent story teller to talk to your own partner!”, potongku ketus-terlampau ketus. “We can’t be together all the time. And when we can’t even talk so there’s no need to keep it anymore”

Hening.

” We are done?, pernyataanmu memecah keheningan.

Aku cuma diam. Dan hukum diam seorang wanita,biasanya berarti iya.

Pernah berpikir gak kenapa kita gagal?”,giliranmu membuka percakapan setelah kebekuan yang panjang.

Aku masih diam.

“Barangkali karena kita melakukan dengan cara yang salah”.

“Yang kita lakukan kemarin membuat kita mundur. Terlampau banyak hal yang dikorbankan. “

Aku masih diam, belum paham.

“Kamu ingat, betapa kita panik kalau sehari saja tidak bicara? Aku sering batal ikut kajian untuk menyempatkan waktu menemanimu belajar. Kamu juga, sering terburu-buru pulang hanya untuk memberiku kejutan. Semua itu belum sepantasnya kita lakukan”

“Tentu saja pantas. Saat itu kita sedang jatuh cinta. Wajar saja kita begitu.”, kebiasaan ngeyel ku keluar

“Akan pantas, kalau kita sudah di koridor yang tepat. Tapi jalan kita kemarin itu asal-asalan. Buktinya sekarang kan?”

Kuhela nafas berat, terpaksa sepakat.

“I love to be with you. But being too attached with you -for now- is..hurting”

Akhirnya dapat kutemukan senyummu yang samar-samar.

“Maka mungkin sebaiknya kita hentikan dulu. Pasangan yang baik tidak akan merusak pasangannya sendiri. Aku tidak mau merusak akhlakmu. Seperti aku ingin menjaga akhlakku.”

“Kamu habis ikut kajian apa sih? Atau karena ini edisi ramadhan?”, tanggapku kebingungan.

Kau pasang muka menggoda andalanmu. Cengar-cengir tak karuan,“Ini bukti cinta edisi ramadhan tau”.

“Idih, barusan pisah sekarang udah gombal!”


Kita hanya tergelak penuh kelakaran.

Bab ini sudah kita akhirkan. Ternyata benar, adab mencinta ada untuk mencegah kita berlebihan.

Melepaskanmu bukan berarti kehilangan. Justru memberiku waktu memperkaya diri, menghadiahimu keleluasaan. Selama yakin janji itu ada, tak perlu berkesusahan. Kita pasti akan dipertemukan dengan pasangan yang akhlaknya sepadan.

Selamat menempuh jalan yang lebih sesuai tuntunan.

Ternyata benar, perpisahan karena iman tak terasa memberatkan.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s