Puisi yang Jumlah “AH”-nya Melebihi Kebiasaan

Berdamai denganmu.

Ah, mungkin lebih tepatnya : bayanganmu.
Sesederhana memasak pasta ternyata.
Tinggal celup ke air panas, voila!
Sudah lembek, menggiurkan. Siap makan. Sama sekali tanpa siksaan.

Pasta itu kerinduanku.
Sausnya ini, anggap sajalah lamat benciku.
Pastaku nikmat, rindu dan benci sudah lebur jadi satu.

“Mau coba?”, tawarku padamu, di tengah kunyahan.
(Kamu menggeleng rikuh. Ah , masih saja kau tak lepas. Canggung menggemaskan. )

Kunikmati pasta sendirian. Ah , paling tidak kau sudah tahu. Tindakan yang cukup beradab untukmu yang sudah mantan.
Sesekali kutaburi irisan keju pada saus penuh daging di hadapku.

“Hey, malam ini aku makan pasta sambil lihat bola!”, kau perlu tahu.

Pasta dan pertandingan bola jadi satu.
Tandanya, aku sudah tak begitu membencimu.

(Baiklah, baiklah…)
Jangan pasang tampang protes begitu.
Tandanya, aku tetap mencintaimu. Hanya tak sedalam dulu.

Ah…GOL!!!”, Korea Utara hampir kebobolan gawang. Pasta sempat kulupakan.

Jogja, 21 Juni 2010

Untuk kedamaian yang tercipta karena piala dunia.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s