Miskin Kata

Terkadang tak perlu banyak bicara.

Cukuplah seperti malam ini, kita berbincang lewat tatapan mata. Saling memandang lewat kamera.

Lekat-lekat kutatap manik matamu.
Kau mengernyit, tak nyaman ditatapi selekat itu.
Ekspresimu lucu. Kerucut bibirmu tampak jelas. Tak mau kalah, kau balik menatapku.

Aku belingsatan? Haha maaf sayang, itu bukan kelemahanku.
Saat kau menatapku selekat itu, justru dapat kuhapal semburat halus bekas cukur di dagumu.
Bulir-bulir air yang menempel di ujung rambutmu. Hey ini sudah malam, kau baru akan Isya dan berwudhu?
Juga dua lingkaran hitam yang makin nyata di kantung matamu.
Ah kau masih seperti dulu-selalu diburu waktu.

Tanpa kusadari, mataku perlahan sayu.
Kau mengedik, memberikan tanda untuk beranjak ke tempat tidurku.
Matamu membesar, alismu naik. Rahangmu mengeras. Ini perintah, bagian otoritasmu

Cepat-cepat kurobek agenda di sisi kananku, seadanya- kutulis dua kata yang sudah tersimpan lama. Kusorongkan ke depan kamera.

“Aku rindu”

Rahangmu mengendur,tatapanmu berubah lembut. Kedikan kepalamu tetap konstan, mengingatkanku tempat tidur menunggu.

Saat aku sudah berbaring, dan kau tak memunggungiku.
Ingin bersorak aku rasanya.

Semakin senja, kita makin tak perlu banyak kata. Petang tanpa bicara sudah di hadap mata

Malam ini, kita miskin kata. Dan bahagia🙂

4 thoughts on “Miskin Kata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s