Stasiun, Perjalanan, dan Kenangan

Perjalanan mengajarkanmu menghargai kebersamaan. Perjalanan memberimu waktu untuk mengerti, bagaimana caranya membentengi diri.

Dini hari ini, kau tempuh lagi perjalanan napak tilas yang masih mendebarkan hatimu. Deru kereta di ujung sana mulai berdenting, menandakan rangkaian gerbong yang kau tunggu akan segera datang. Kau melengos malas. Semenjak saat itu, kau tak pernah suka pada tetek bengek stasiun dan kereta api. “Seandainya saja perjalanan ini bisa ditempuh lewat jalur udara”-pikirmu. Kau tak akan berkeberatan membayar sedikit lebih mahal. Tapi sayangnya kota yang kau tuju tak punya bandar udara. Mau tak mau kereta menjadi pilihan satu-satunya.

Orang-orang di sekitarmu tampak antusias menunggu kereta datang. Mungkin diantara mereka ada ayah yang sudah berkali-kali diteror putri kecilnya lewat telepon. Atau seorang kakek yang ingin segera mengusap rambut cucu kesayangannya. Bahkan mungkin seorang kekasih yang ingin segera mendekap pasangannya. Semua orang nampak semangat dan bahagia-tapi itu tak berlaku bagimu.

Mengapa kau sangat membenci kereta? Ah alasannya sederhana. Kereta, stasiun- dan semua tetek bengeknya selalu membuatmu tak genap. Setahun yang lalu, kau masih nampak bahagia di tempat yang sama. Tangan kirimu melenggang, mengayunkan tas jinjing warna kuning favoritmu. Sementara tangan kananmu hangat di tempat favoritmu di seantero dunia: genggaman tangannya. Hari itu kau mengantar pria kesayanganmu pergi. Demi sebuah mimpi yang sama-sama kalian gaungkan pengharapannya. Stasiun sempat menjadi tempat paling intim bagi kalian. Kau bergelayut di pundaknya, samar-samar menyapukan kecupan kecil di bibirnya. Bukan apa-apa, lucu rasanya mendengar bunyi kecipak yang dihasilkan pertemuan dua lapis bibir.

Priamu pegi dibawa gerbong kereta nomor 4. Beberapa bulan selanjutnya ia tak lagi bisa dihubungi. Hilang tanpa bekas. Memberimu kenangan lubang cinta dan sakit hati.

Mulai saat itu- kereta adalah moda transportasi paling munafik bagimu.

“Mari mbak, kita naik”. Suara pria setengah baya di sampingmu membuatmu terperanjat. Ah ya, kereta yang kau tunggu sudah datang.

“Kenapa sedih mbak?” Pria yang lebih pantas menjadi kakekmu itu nampak khawatir melihat semburat air mata di kelopakmu.

“Ah tidak eyang…”, kau mengusap ujung matamu. “Saya cuma capek. Ini keempat kalinya saya naik kereta seminggu ini”

Kakek itu menepuk pundakmu dengan ramah, “tenang mbak..kereta selalu memberi kita kenangan indah kan?”

Kau hanya sanggup mengangguk.
“Sekarang siapa yang lebih munafik?”, jerit suara batinmu.

16 Februari 2010, 02.30

Jogja-Malang

Untuk seorang pria yang akan tiba sore nanti. Selamat berkereta api🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s