Konklusi

Pernahkah kamu begitu mencintai seseorang?

Hingga duniamu tidak berjalan di poros yang semestinya,
saat ia memilih berhenti dan mencerabut akarnya dari kebersamaan kalian.
Mengguncangkan kestabilan yang kamu gaungkan dalam embel-embel “ke-kita-an”

Meski hanya setengah warsa toh kamu sudah terlalu terbiasa.
Terbiasa untuk merogoh ponsel dengan mata terpejam,
memencet nomor yang kau hapal di luar kepala : membangunkannya sholat subuh
Tenteram mendengar suara bass seraknya
Lalu malas-malasan menarik diri dari selimut, berjilbab dan berpakaian seadanya
Menunggu sambil makan pagi pelan-pelan.
Dan dia akan ada di depan rumahmu
Dengan suara “nging” yang amat kau hapal itu
Tersenyum, menyeruakkan wangi parfum yang kau kenal tiap inci semburannya
Mendekatkan diri ke punggungnya.
Mau tak mau menghela napas bahagia, saat kau tahu hingga pagi ini panas tengkuknya lah yang tetap kau sapa.
Kamu terbiasa dengan tatapan dinginnya.
Kalian adalah pasangan tanpa suara, kamu mencintainya tanpa banyak bicara.
Cukup dia saja yang tahu.
Lewat perhatian yang kau kirimkan lewat surat-surat elektronik
Lewat senyum dikulum waktu dia makan dengan kecap banyak-banyak
Atau saat ia memainkan balok es berbentuk silinder
Kamu terbiasa berdebat hal-hal yang tak penting dengannya
“Bagaimana es batu ini bisa berbentuk silinder?”
“Mengapa kostum pemain sepak bola Indonesia harus ketat?  Mereka tampak metroseksual!”
Kalian saling mempersalahkan, tak mau kalah
Tapi kau masih juga “ngabdi“.
Hafal memesankan es teh manis waktu kalian makan bersama
Membereskan tempat tidurnya yang tampak seperti habis diterjang bianglala
Tersenyum puas, sisi kewanitaanmu berjaya waktu ia bilang ia suka tempat tidurnya rapi.
Siang ini ia ingin tidur sambil memeluk orang yang telah berjasa melipatkan selimutnya: kamu

Hingga malam datang pun stempel “terbiasa” masih juga kamu gaungkan.
Kalian terbiasa berkirim pesan singkat untuk mengajak sholat maghrib.
Sesekali ia menambah perhatian dengan bilang jangan lupa makan.
Kamu tak akan bisa tidur jika pesan singkat terakhirmu malam itu belum terbalas.

Esok paginya kamu bangun lagi, membangunkannya sholat subuh lagi.
Semua kebiasaan itu sudah kau resapi sampai di luar kepala.
Bahkan kau bisa memejamkan mata dan melakukannya tepat tanpa cela.

Karena terbiasa, kamu tergoncang waktu ia meninggalkanmu.
seperti membuang buku yang sudah habis ia hafal, hingga titik komanya.
Ia bosan padamu, mungkin bukan, lebih tepatnya ia bosan pada kalian dan semua kebiasaan

Kamu sadar kalian berbeda.
Kamu pengagung kebiasaan,  ia tak suka hal yang terlalu teratur, berulang-ulang
Ia berpikir esok harus apa, kamu berpikir tiga tahun mendatang kalian mau jadi apa
Kamu tidak kuat
Ia juga menyerah
Kali ini lebih baik kalian berpisah

Tapi kamu tak pernah berpikir bahwa berbekal kebiasaan kamu akan begitu mencintainya.
Kebiasaan itu layaknya candu, yang memisahkan logika dan hatimu
Hitung saja sudah berapa lama kamu begini
Februari hingga Desember. 10 bulan, berarti 300 hari sudah kamu mencintainya
Itu belum ditambah 180 hari sisanya yang benar-benar mabuk cinta
Meski hari-hari itu terselipi kesal, benci, dan kadang suara tangismu
Kamu toh cukup pintar untuk berhitung: harimu mencintainya-sendirian jauh lebih lama dibanding saat kalian bersama
Itu kesimpulannya dan kamu harus terima

Terdengar suara berdenging di seberang jalan.
Kamu berhenti menyendok makananmu, menengok kiri kanan
Hidungmu mencium parfum yang hampir serupa
Jantungmu berdetak melebihi interval seharusnya

Kamu masih diliputi rasa padanya
Rindu, benci, sayang, merinding, dan akhirnya berujung pada satu hal : cinta dengan intensitas yang sama

Itu kesimpulannya, dan kamu harus terima.

4 thoughts on “Konklusi

  1. “itu kesimpulannya dan nyatanya kamu TETAP dan MASH berduka !!!”

    hahahaha Monza,,

    like this…

    aku daftar jd penggemar mu dah… ahahahaha ;D

  2. mon … hiks.
    kok aku sedih bacanya sih? karena aku ada di posisi itu.

    eh tapi ini tentang sedih bukan mon?

    ah, bodo amat. pokoknya gw sedih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s