Paradoks si Papa

Agus Sudrajat.


Papa saya.

Dulu beliau minta dipanggil Bapak, tapi bibir saya selalu mengucap Papa.

Orang yang suka kasih target aneh, tapi selalu bikin semangat.

Papa yang suka tiba-tiba masuk kamar saya, dan ngusel-ngusel di atas tempat tidur.

Yang sering saya komplain karena aroma badannya tertinggal di sprei saya.

Ayah yang penuh paradoks.

Berkata pada pasiennya, ” Kurangi makanan yang mengandung purin..itu tidak baik”. Tapi pulang praktek mampir bakmi Jawa dan tambahnya jeroan.

Menasihati orang lain untuk teratur minum obat. Tapi batuknya sendiri belum sembuh-sembuh, karena gak teratur minum obat.

Orang yang hobi mengetuk pintu kamar pagi-pagi untuk sholat subuh.

Papa yang menatap saya dengan tatapan menyesal, saat saya menangis dihadapannya waktu awal-awal kuliah.

Papa yang paling selektif soal teman pria saya.

Papa yang tadi siang sms saya, “Jaga rumah ya…papa sama mama mau honeymoon”

Semoga mereka tidak mengadiahi saya adik baru *crossing finger*

Papa, yang saya tahu sampai saat ini masih menyimpan mimpi di hatinya.

Demi melihat salah satu anaknya menjadi pahlawan jiwa, menjadi tenaga kesehatan sepertinya.

Maaf ya Pa, aku memang tidak bisa untuk mewujudkan mimpi papa.

Tapi aku janji, akan berjuang di bidang yang telah aku pilih sendiri. Demi tetap membuat Papa bangga.

Papa ku yang penuh paradoks, tapi aku sayang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s