Kecepatan dan Waktu Berpikir

Alhamdulillah, akhirnya ujian selesai juga. Lega juga bisa lepas dari beban yang menyita waktu dan pikiran itu. Karena sudah tidak ada kegiatan akademis lagi, alhasil saya jadi pengangguran. Dengan status yang masih menggantung tentunya, secara saya belum lulus J. Target saya sih, selama waktu kosong ini saya sudah bisa nyetir mobil dengan baik dan benar (aka bisa belok, parkir, dan tanpa memecahkan lampu sen depan). Hehe, sounds silly yah.

Eniwei, selain belajar nyetir saya juga jadi sering bersepeda ria kemana-mana. Karena radius bepergian saya juga ga jauh-jauh amat dari rumah. Dan cerita ini pun dimulai dari kayuhan sepeda itu. Semakin sering saya naik sepeda, saya jadi sadar kalo selama ini saya menjalankan semuanya dengan terlampau cepat dan tergesa. Saya gak pernah punya waktu untuk memperhatikan hal-hal kecil di sekeliling. Contohnya kemarin, saya baru tahu kalau di deket rumah saya ada tanah kosong yang di sisi paling pojoknya malah dijadikan TPA gratis. Banyak sampah, juga ada abu bekas pembakarannya. Yang ada di pikiran saya saat itu, “Ooohh…yang bakar sampah sore-sore itu dari sini toh…”

*geezz…hallo monik..whr hv u been??*

Tapi kok saya gak pernah lihat ya?? Padahal itu jadi rute yang selalu saya lewati lho, yeah at least 2 kali sehari waktu berangkat dan pulang sekolah. Belom kalo nanti saya beli rujak, pengin mie ayam, ke warnet, pasti bisa lebih dari 5 kali. Bukan itu saja, waktu bersepeda saya juga jadi lebih punya waktu untuk menyapa tetangga-tetangga yang kurang akrab di mata. Kalau naik motor boro-boro menyapa, wong kalo lewat depan rumah mereka kaca helm saya sudah tertutup dan saya pasti sudah melesat cukup kencang.

Ternyata kecepatan itu sangat berpengaruh terhadap waktu berpikir ya?

Saya jadi sadar kalo terkadang saya harus melambatkan ritme hidup saya untuk memberi waktu kepada diri saya untuk berpikir. Juga untuk memperhatikan orang lain. Selama ini saya terbiasa membuat semuanya well organized, diatur per-jam, diperhitungkan tiap menitnya. Terbiasa memikirkan semuanya dengan kepentingan saya sebagai pusatnya. Dirajai oleh to do list yang telah saya buat. Seakan tiap centangan tanda done adalah prestasi besar yang membanggakan. Saya jarang sekali memberi kesempatan pada diri saya untuk berpikir. Aduuhhh…. saya bingung harus menutup tulisan ini dengan apa. Saya hanya bisa bilang, kayaknya saya harus lebih sering bersepeda. Dengan pelan tentunya J

Cheers, have a life!

-nendra primonik-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s