Belajar Seumur Hidup

buat apa kita belajar?

pertanyaan yang klise, tapi penting.katanya proses belajar itu tidak akan pernah selesai.
tapi apakah kita tahu tujuan akhir dari belajar itu sendiri?
mungkin bisa dijawab dengan , “biar tambah pinter” atau “menambah wawasan”. Ok, mungkin bisa diterima. Tapi kalo jadi pertanyaannya Susan,
“Kalo pinter, mau jadi apa?”
sepertinya bakal susah ya nemuin jawabannya.Ga cukup dengan jawaban standar, kita butuh jawaban yang definitif.
Boleh taruhan deh, bahkan orang-orang yang jauuhh lebih tua dari saya pun masih banyak banget yang belum menemukan tujuan dari proses belajar mereka selama ini.
Saya punya kenalan yang umurnya 9 tahun lebih tua. Dulu dia kuliah di dua tempat, dengan jurusan yang berbeda.
Dan sekarang dia kerja di banyak (iya, beneran banyak!)bidang yang bertolak belakang.Cukup sukses pula.Dimata saya dia talented.
tapi dengar pengakuannya saya kaget, bagi dia prestasi paling besar dalam hidupnya adalah menikah di usia 25 tahun.
Iya,MARRIED!Bukan gelar cumlaude,jadi dosen,aktivis NGO ternama, atau sederet profesi hebat yang pernah dia punya.
Ternyata banyaknya pilihan yang dia coba cuma proses mencari tujuan belajarnya. Geezzz, orang sekaliber diapun belum tau tujuan belajarnya!
Sebenarnya ada satu hal yang tidak bisa dipisahkan dari proses mencari tujuan belajar. Cita-cita.
Sejak awal harusnya kita tahu cita-cita kita. Karena disitulah muara dari tujuan belajar itu sendiri.
Semakin kita yakin pada pencapaian sebuah cita-cita, makin mudah pulalah kita mencari hilir dari sebuah proses belajar.
Cita-cita itu ibarat sebuah peta strategi, dia akan membantu kita mencari celah untuk menuju kemenangan.
Dengan sebuah cita-cita yang selalu digaungkan, mencari tujuan belajar itu pasti ga akan terlalu menyusahkan.
Setelah punya cita-cita maka tinggal nasib yang menentukan.
FAITH.
Saya kadang ngeri kalau membayangkan kehebatan nasib.
Berapa banyak orang di luar sana yang belum menemukan cita-cita, hanya karena nasib belum menjemputnya.
Bisa saja tukang parkir di pasar Kranggan itu gifted untuk jadi penyanyi.
Tapi nasib tidak berpihak padanya, tidak peduli seberapa sering ia menyanyi saat memarkir kendaraan toh tak tak ada juga talent seeker yang menjumpainya.
Mungkin guru saya di sekolah sebenarnya berbakat jadi desainer.
Bukannya masuk sekolah desain, eh malah keterima di IKIP. Dan didukung mati-matian oleh orang tua.
Kali itu, nasib yang berbicara.
Nasib dan cita-cita adalah hal yang akan terus berkejaran, ingin saling mendahului menebarkan jeratnya.
Saya tahu mereka tidak akan pernah menyapa saya bersamaan.
Namun dengan keyakinan,cita-cita di tangan,dan usaha yang tak pernah berhenti saya yakin mereka semua akan ramah menyapa.
Itulah tujuan belajar saya.
Lari mendahului nasib agar leluasa menggantung cita-cita.
Saya ga punya alasan untuk lelah,atau menyerah.

Hang on!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s