Tuhan, aku yakin kau dekat dan setia.
Maka kini bolehkah aku bertanya?
Apakah mengimani berarti hanya mempercayaimu tanpa pernah terlontar kata?
Atau bolehkah aku sebagai hamba mencari dan mengumbar tanya?
Tuhan, aku yakin kau pemurah dan baik hatinya.
Dua puluh dua tahun sebelum gejolak yang sama kembali muncul di muka.
Kini hatiku banjir kata “kenapa”.
Aku rindu menemukanmu. Sebagai sosok yang kutemui di gelas kopi, dahi sahabat, atau halaman depan koran pagi.
Aku rindu menyapamu seringan tepuk bahu. Tanpa ragu kembali padamu selayaknya anak kembali bersandar di bahu Ibu,
Tuhan, aku yakin segala jalan pasti ada maksudnya.
Kau tak pernah berkelakar untuk jalan terjal yang kau beri.
Tapi di balik ini, Kau pasti telah janjikan pengalaman dan keimanan sejati.
Terima kasih, untuk mengijinkanku mencari.
January 27th, 2012 at 3:28 am
Tuhan ada di mana-mana kakak
terutama di hati orang yang mengimaninya
January 27th, 2012 at 6:47 am
Bahkan “sekelas” Ibrahim, Musa, Isa pun Muhammad masih mempertanyakan Tuhannya.
Ketika Isa meminta Tuhan membuktikan bahwa Ia Maha Menghidupkan lalu Isa diminta menyebarkan 4 potongan burung ke 4 gunung berbeda
Ketika Muhammad tergugu meminta kemenangan di Perang Badar, “mengancam” bahwa Tuhan yang Ia yakini bisa-bisa tak lagi disembah jika perang kali itu kalah.
Mereka semua, menyelipkan gelisah di kokohnya iman. Karena memang begitu. Biar kita terus mencari tahu. Biar semakin padu rindu ini pada-Nya..