Terkadang, di sela jalan lima menit menuju kampus ada sedikit namamu terselip di langkah kaki.
Terkadang, di tengah kelas Jepang yang menguras energi kamu jadi contoh kalimat yang sesungguhnya bodoh setengah mati.
Sudah sekian warsa, dan belum juga lupa.
Beratus hari tak bersua muka, ternyata rindu juga.
Aku tahu semua harus berubah, ada hal-hal yang tak bisa kembali. Dewasa berarti berjalan maju, tanpa mundur lagi.
Tapi sungguh, kamu terlampau autentik untuk dilewatkan tanpa arti.
Kenangan denganmu tak indah, tapi hangat di hati.
Aku rindu, padamu, pria pemegang janji. Yang selalu datang lima menit sebelum tenggat waktu tersepakati. Aku rindu, padamu, pria penuh solek diri. Tak pernah lupa semprot pewangi di leher dan kerah kanan kiri. Aku rindu, padamu, pria sederhana yang lurus hati.
Cuma rasa sesaat, yah barangkali.
Lagipula, tak ada manfaatnya bila kembali ke jalan yang sama lagi.
Alhamdulillah. Untuk rasa yang masih ada. Berarti Engkau masih cinta, menguji hamba bagaimana menjaga gejolak rasa.
Rindu. Selalu bisa diakali.
Dan sebaik-baik rindu, kukembalikan pada-Nya yang nan menjaga diri.
17 Januari 2011

June 4th, 2011 at 6:53 pm
Dear Monik,
I like your blog and the way you express your feeling, and opinion. It was smart and easy-reading. Glad to found your blog. Let’s share more.
xxx, Kiki